Ketika Cinta Mengetuk Hati

Tempat Terakhir.. Pacar saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya mendengar suaranya. 7 bulan dalam masa perkenalan, dan 6 bulan dalam masa hubungan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. pacar saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam hubungan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal. Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perpisahan. “Mengapa?”, tanya pacar saya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan,” jawab saya. pacar saya terdiam. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya pacar saya bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?” Saya berpikir dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,”Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya” “Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.” Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada kabar, dan saya memerima sms panjang. “Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya. Saya melanjutkan untuk membacanya. “Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baik kamu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal.” “Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami.” “Kamu selalu terlalu dekat dengan komputer,serius menulis terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu.” “Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu.” “Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir. “Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu.” Air mata saya jatuh, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya. “Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya. “Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal dihatimu, tolong bukakan pintunya, saya sekarang sedang berdiri disini menunggu jawaban kamu.” “Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya pergi, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia.” Saya segera menelponnya untuk mendengar suaranya. Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. 4 my specialy “embun pagi”. “I Will Always Love You”

Sedikit Tentang Filsafat Estetika

adalah cabang ilmu yang membahas masalah keindahan. Bagaimana keindahan bisa tercipta dan bagaimana orang bisa merasakannya dan memberi penilaian terhadap keindahan tersebut. Maka filsafat estetika akan selalu berkaitan dengan antara baik dan buruk, antara indah dan jelek. Bukan berbicara tentang salah dan benar seperti dalam filsafat epistemologi.

Secara etimologi, estika diambil dari bahasa Yunani, aisthetike yang berarti segala sesuatu yang cerap oleh indera. Filsafat estetika membahas tentang refleks kritis yang dirasakan oleh indera dan memberi penilaian terhadap sesuatu, indah atau tidak indah, beauty or ugly. Estetika disebut juga dengan filsafat keindahan.

Filsafat estetika pertama laki dicetuskan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1975) yang mengungkapkan bahwa estetika adalah cabang ilmu yang dimaknai oleh perasaan.

Filasafat estetika adalah cabang ilmu dari filsafat Aksiologi, yaitu filsafat nilai. Istilah Aksiologi digunakan untuk menberikan batasan mengenai kebaikan, yang meliputi etika, moral, dan perilaku. Adapun Estetika yaitu memberikan batasan mengenai hakikat keindahan atau nilai keindahan.

Kaum materialis cenderung mengatakan nilai-nilai berhubungan dengan sifat-sifat subjektif, sedangkan kaum idealis berpendapat nilai-nilai bersifat objektif.

Andaikan kita sepakat dengan kaum materialis bahwa yang namanya nilai keindahan itu merupakan reaksi-reaksi subjektif. Maka benarlah apa yang terkandung dalam sebuah ungkapan “Mengenai masalah selera tidaklah perlu ada pertentangan”.

Serupa orang yang menyukai lukisan abstrak, sesuatu yang semata-mata bersifat perorangan. Jika sebagian orang mengaggap lukisan abstrak itu aneh, sebagian lagi pasti menganggap lukisan abstrak itu indah. Karena reaksi itu muncul dari dalam diri manusia berdasarkan selera.

Berbicara mengenai penilaian terhadap keindahan maka setiap dekade, setiap zaman itu memberikan penilaian yang berbeda terhadap sesuatu yang dikatakan indah.

Jika pada zaman romantisme di Prancis keindahan berarti kemampuan untuk menyampaikan sebuah keagungan, lain halnya pada zaman realisme keindahan mempunyai makna kemampuan untuk menyampaikan sesuatu apa adanya. Sedangkan di Belanda pada era de Stijl keindahan mempunyai arti kemampuan mengomposisikan warna dan ruang juga kemampuan mengabstraksi benda.

Pembahasan estetika akan berhubungan dengan nilai-nilai sensoris yang dikaitkan dengan sentimen dan rasa. Sehingga estetika akan mempersoalkan pula teori-teori mengenai seni.

Dengan demikian, estetika merupakan sebuah teori yang meliputi:

1. penyelidikan mengenai sesuatu yang indah;
2. penyelidikan mengenai prinsip-prinsip yang mendasari seni;
3. pengalaman yang bertalian dengan seni, masalah yang berkaitan dengan penciptaan seni, penilaian terhadap seni dan perenungan atas seni.

Dari pernyataan di atas, estetika meliputi tiga hal, yaitu, fenomena estetis, fenomena persepsi, dan fenomena studi seni sebagai hasil pengalaman estetis.

“Izinkan Aku Mencintaimu Walau Aku Liberal”: Ketika Filsafat dan Cinta Tdk Lagi Berjarak (Sebuah Novelet Filsafat Part II)

Pukul 18.20 setelah shalat Maghrib, sekretariat FMM yang berada di Student Centre UIN Jakarta sudah ramai dihadiri seluruh aktivis muslim. Mereka hari ini berencana menyambangi sekretariat BEM Ushuluddin setelah nota protes yang dilayangkan ke Arisiska tak kunjung dibalas. FMM sudah kepalang terendam amarah. Hari ini Arisiska harus segera ditemukan: “Hidup atau mati”. Hannah Arendt dari Ciputat yang kalau sudah bicara suka nyelekit. Menstigma kader-kader Forum Mahasiswa Muslim UIN adalah Antitesis Peradaban yang lebih cocok tinggal di Arab ketimbang menganggu keutuhan Pancasila di Indonesia. “Belum belajar Filsafat Sejarah Hegel dan Dekontruksi Derrida. Terlalu taklid dengan Imam Syafi’i. Orang-orang kaya Jaka itu nanti di neraka bingung. Ia bertanya-tanya kepada Tuhan, kenapa ia masuk neraka, sedangkan Bunda Theresa masuk Surga.”
“Hahahaha,” tawa terbahak-bahak kawan satu diskusinya. Arisiska memang selain terkenal pintar dan cantik, juga terampil melucu.
“Lalu apa kata Tuhan, Sis?”
“Tuhan malah mengutip pendapat Cak Nur.”
“Hahahahaha,” Gemuruh tepuk tangan kini membahana.
Sektretariat BEM Fakultas Ushuluddin dan Filsafat penuh sesak. Kantor mini yang berada di sekitar lantar dasar fakultas ini sedang menggelar surga buatan bagi satu-satunya agama yang tidak memiliki neraka: Filsafat Perenialisme! BEM Ushuluddin memiliki empat jadwal padat kajian tiap minggunya. Dimulai pada hari senin dimana tema akan bergulir mengenai Filsafat Politik. Disini mereka banyak berdiskusi tentang kenapa Islam tidak butuh Negara. Kurikulumnya seperti mekanisme negara menurut Plato, sistem Politik dalam pandangan Aristoteles hingga gagasan tiranik Machiavelli. Rabu tema mulai mengarah ke arah wacana Islam Kontemporer. Materi tidak jauh-jauh seputar liberalisasi Islam, Heurmenetika, Dekonstruksi syariah, Homoseksual Halal, Poligami Jangan, Selingkuh Boleh. Untuk hari Kamis sendiri tema akan mengendap pada Isu kontemporer seperti demokrasi sampai isu RUU Pornografi.
Dari hasil kajian selama ini, alih-alih ingin membuat semangat mencintai Islam masuk ke sanubari tiap mahasiswa, yang terjadi justru sebaliknya. Ujung-ujungnya mahasiswa UIN kini mulai ragu apa benar Al Qur’an itu aseli dari Allah. Jangan-jangan Maalaikat Jibril salah maksud. Kalau yang masih moderat isunya berkisar pada tanya: Masihkah cocok Al Qur’an diterapkan pada zaman sekarang, sedangkan Karl Marx, Nietsczhe, Adorno sudah susah-susah menulis buku.
Kini pas hari Jum’at tiba, mereka serius untuk berbicara perihal Tuhan. Kesimpulannya bisa jadi dua: pertama, Tuhan tidak ada. Kedua Tuhan mungkin ada. Ya mungkin!
Arisiska berdiri di depan whiteboard dengan sebuah spidol. Di hadapannya kini sekitar dua puluhan mahasiswa jurusan Akidah Filsafat, Tafsir Hadits, dan Perbandingan Agama setia menunggu limpahan kata dari gadis pintar ini. Ia ingin menyadarkan kawan-kawannya bahwa pada dasarnya semua agama memiliki cita rasa kebenaran. Tergantung bagian lidah mana yang mencicipinya. Ditangannya masih tergenggam sebuah buku karangan Hans Kung, seorang filsuf yang gemar mengkampanyekan Pluralisme Agama dan baru-baru ini mengunjungi UIN Jakarta. Sebuah buku yang relatif tidak terlalu tebal untuk ukuran buku tentang Filsafat Ketuhanan. Sedangkan di bawah kakinya ada sekitar empat belasan buku mengenai perenialisme dan tema-tema ketuhanan lainnya.
Arisiska membuka diskusinya. Tangannya menari-nari menjelaskan. Gaya bicaranya agak berat dan menekan, “Islam tidak bisa mengklaim dirinya paling benar. Kristen begitu pula. Termasuk Hindu-Budha. Tuhan-tuhan dalam agama itu adalah tuhan historis. Konsekuensinya bahwa Islam dengan ibadah shalatnya, Kristen dengan ibadah gerejanya, dan Hindu dengan ritual kuilnya adalah sederet institusi formil yang berbicara pada wilayah eksoteris belaka. Jadi, Islam dan agama-agama lainnya sebenarnya menuju pada tuhan yang sama, hanya saja memiliki cara-cara berbeda. Pada intinya agama-agama ini memang berbeda, namun kalau kita dalami, mereka sebenarnya memiliki visi serupa, yakni sebuah kepasrahan kepada ketentraman dan komitmen pada kedamaian. Inilah yang disebut filsuf seperti Fritjof Schuon dan Rene Guenon (Baca: Gino) dengan istilah Perenialisme.”
“Agar kawan-kawan tidak bingung, bisa kau jelaskan dari mana istilah Perenialisme itu. Karena selama ini kami hanya tahu pluralism dan theosofi. Sebagai dampak dan akar perenialisme?” Tanya Reno, mahasiswa Akidah Filsafat semester tiga.
“Istilah philosophia perennis (filsafat perennial) ini sendiri digunakan pertama kali oleh Agostino Steuco, seorang pustakawan Vatikan dan Kristen Platonik. Ia menulis De perenni philosophia pada tahun 1540 yang didedikasikan kepada Paul III. Ia memaparkan dalam karya tersebut pemikiran Marsilio Ficino, tokoh penting dalam asal mula Tradisionalisme.”
Semua peserta diskusi yang rata-rata pencinta buku itu masih mencerna-cerna.
“Kita diskusi mengalir saja. Tidak perlu serius, tapi bisa santai. Ada yang mau bertanya lagi disini?” Ungkap Arisiska bersoftlense oranye itu.
Rahmat angkat tangan. Kakinya bersila sambil melinting batang tembakau di jemarinya. Khas anak Ciputat yang suka selingkuh.
“Ya silahkan Rahmat,” arah Siska datar.
‘’Lalu apakah dengan begitu konsep Perenialisme ini dapat menjamin kerukunan antar beragama? Mengingat walaupun tiap-tiap agama telah kita satukan sekalipun toh agama tetap saja memiliki klaim-klaim teologis yang tak bisa kita hindari. Contohnya dalam Islam Nabi Isa tidak di salib, namun dalam Kristen justru sebaliknya. Dalam Islam yang mengakui tuhan ada tiga itu kan kafir. Sedangkan Kristen, tidak mengakui kenabian Nabi Muhammad adalah keharusan. Bagaimana mungkin kita bisa menjembatani kedua hal ini? Sedangkan Islam dan Kristen dari sisi teologis memberikan ruang cukup paradoks.” Tanya Rahmat, wakil ketua BEM Ushuluddin. Anaknya cukup pintar, ia berencana mengambil S2 di Leiden University. Kakak kelasnya di Paramadina sudah lebih dulu berada disana.
“Baiklah. Aku akan menjawab pertanyaan dari Rahmat. Aku bisa sarankan kamu untuk bisa membaca buku-bukunya Guenon. Guenon memecahkan permasalahan yang seperti Rahmat utarakan dengan membagi perenialisme pada empat ciri mendasar.”
Arisiska mulai menulis berurutan di papan tulis, “ 1. The unity of God. 2. The Trinity of the manifested God. 3. The hierarchy of beings. 4. Universal brotherhood.”
Matanya kini kembali menatap Rahmat, nah mengacu kepada yang empat itu, Islam akhirnya dalam pandangan perenialisme, bisa jadi hanya benar bagi orang Islam saja. Kristen tidak bisa memaksakan agamanya kepada Islam. Begitu pula Hindu kepada Yahudi. Karena pada dasarnya semua agama sama. Bahwa Nabi Isa tidak disalib iya. Tapi kita wajib lebih mendahulukan relogio etik disini, ketimbang teologi tiranik. Kalau sudah begitu, kebenaran itu akhirnya akan bermuara pada apa yang disebut Schuon dengan wilayah esoterisme. Dengan begini kita tetap bisa menyatukan semua agama tanpa mengusir kebenaran pada masing-masing agama. Nah kalau kita sudah berpandangan seperti ini. Kita yakin tidak ada lagi klaim sepihak dan kekerasan antar agama. Karena agama dalam hal ini menjadi relatif. Tetapi tetap dinamis. Tanpa menutup ruang untuk mengeksistensikan kebenaran masing-masing. So, inilah yang saya maksud dengan.. ”
Arisiska mengambil spidolnya kembali dan menulis besar-besar di papan tulis “Absolut yang terelatifkan, dan relatif yang terabsolutkan.”
Rahmat terpukau. Menurutnya sanggahan Arisiska cocok bagi orang-orang literalis dan skriptualis yang sering menanyakan itu kepadanya. Alhasil, mulai detik itu ia jatuh hati. Jatuh hati pada seorang perempuan yang sudah dianggap Guru Besar Filsafat meski baru semester lima.
Sementara itu di sekret FMM, sahut-sahutan sudah mulai menggelora. Kawan-kawan mendesak agar FMM melakukan tindakan pembalasan atas tindakan keji BEM Ushuluddin. Nyali Alika Reza sebagai ketua akan dibuktikan disini. Mereka semua meminta Reza minimal melayangkan pembalasan setimpal agar pemukulan dibalas pemukulan. Foto wajah bengap anggota FMM yang dipukuli kini dipasang pada tiap fakultas dari mulai Psikologi sampai Sains dan Teknologi. Lengkap dengan kop bertulis, “Inikah hasil dari diskusi Filsafat selama ini?”
Isu beredar bahwa tindakan represif itu diprovokatori Arisiska yang tidak diterima dibilang kafir dan pelacur oleh Jaka. Arisiska tersinggung berat. Ia ngotot tidak diterima dihina serendah itu oleh mahasiswa semester lima Fakultas Adab dan Humaniora yang masih bau kencur mengeja Islam menurut Arisiska. Sedang Jaka berucap bahwa hal itu wajar, “Memang Arisiska pelacur kok. Saya lihat tiap hari ia menerima uang dari salah satu Negara Eropa Barat.” Urai Jaka.
“Iblis betina. Antek Liberal.” Sahut lainnya
“Usir Arisiska dari UIN,” timpal rekan sejawat Jaka
“BEM Ushuluddin perusak akidah mahasiswa baru.”
“Antek Dajjal”
Dan sumpah serapah lainnya yang tidak putus-putus.
BEM Ushuluddin kini terpojok. Mereka yang selama ini terkenal anti kekerasan, cinta damai, pengusung ide kerukunan antar umat beragama, ternyata terbentur pada slogan. Tindakan main hakim sendiri empat hari lalu meruntuhkan stigma itu semua. Kini, seluruh anggota FMM dan berbagai elemen mahasiswa muslim di UIN telah berkumpul di satu titik yang sama: Depan Student Centre UIN. Bendera Laillahailallah berkibar menampar-nampar udara bak panji-panji Shalahuddin Al Ayyubi membentang di bibir Palestina. Satu langkah kini berjalan, mereka serentak berjalan diikuti pekikan takbir menuju sekret BEM Ushuluddin dan Filsafat. Barisan terdepan terlihat sangat bersemangat. Iya mereka justru mahasiswa Ushuluddin sendiri. Ada Jaka dan beberapa kawan kelasnya. Namun tidak lebih dari lima orang. Mereka baris beraturan sambil membentangkan spanduk berwajah Arisiska dan gelimangan dolar di sekelilingnya.
Sedangkan di sekret, kajian masih terus berlanjut. Suasana makin memanas. Arisiska meletakkan jaket hitamnya di meja ruang sekret BEM Ushuluddin hingga menyisakan kaos putih bergambar Imanuel Kant di tengahnya. Waktu maghrib mereka lewati dengan mengindahkan untuk mendirikan shalat. Baginya, shalat tidak bisa dijadikan ukuran bahwa manusia itu cinta Tuhannnya atau tidak. Apalagi inti shalat adalah pengabdian kepada Allah sekaligus mengingatnya.
“Jadi Ibadah itu macam-macam. Diskusi juga ibadah, malah tingkat kekhusyukannya lebih tinggi dari shalat. Berfilsafat itu adalah dzikir paling elegan untuk mengingat Tuhan. Jadi orang yang namanya Immanuel Kant itu lebih soleh ketimbang anak dakwah kampus. Jangan heran kalau David Hume lebih sering menangis jika mengingat Tuhan ketimbang sederetan mahasiswa yang sering memanggil kawannya Akhi, Ukhti, Ekhu itu.”
“Hahahaha…” tepuk tangan seluruh peserta diskusi. Tawa mereka riuh merespon Arisiska menyindir Lembaga Dakwah Kampus Syarif Hidayatullah.
Ruang sekeretariat ini sebenarnya hanya berlebar 10×10 meter. Tapi selalu penuh sesak karena massifnya kajian Filsafat rutin disini. Di dindingnya ada sebuah moto besar berjudul terang: BUAT APA KITA BERTUHAN, JIKA TUHAN SENDIRI SAJA TIDAK BERTUHAN!! Sedangkan di sampingnya terbentang foto Arisiska tengah memberikan orasi di depan gedung DPR menolak disahkannya RUU Pornografi. Saat itu Arisiska berteriak lantang, “Buat apa kita sibuk mengatur cara pakaian perempuan jika Tuhan sendiri juga mencintai keindahan. Ingat Pak Ustadz, Tuhan tidak pernah melihat keshalehan hambanya dari aurat, tapi dari amalnya.” Dan sebuah piagam besar pemberian sebuah kedubes Asing berdiri disampingnya: “Selamat Atas Terpilhnya Arisika Lenila Wahid Sebagai Srikandi Hak Asasi Manusia.” Ya gadis pintar, tapi menampar. Pecinta diskusi luar biasa untuk ukuran mahasiswi UIN seusianya. Selingkuhan abadi Michael Foucoult yang kadung membuat banyak mahasiswa ateis menyesal baru kali ini tidak bertuhan.
Saat Arisiska sedang akan menutup kajian, tiba-tiba dari luar sekret mulai terdengar keramaian. Sahut-sahutan mulai bergulir. Tadinya satu orang, lama kelamaan disusul satu bundel barisan mahasiswa memanjang membentangkan spanduk bertuliskan, “Pluralisme Agama Bukan Bagian Dari Islam.”
Sekret BEM Ushuluddin panik bukan kepalang. Mereka menghentikan sejenak tawanya. Kepala mereka beradu mencuri-curi pandangan dari jendela melihat situasi mulai penuh kegaduhan. Sedang mereka sendiri tidak tahu apa yang terjadi.
Ketika telah sampai di depan sekret, Jaka menyuruh temannya berhenti memekikkan yel-yel. Satu buah jarinya menyangga kelima jarinya membentuk payung petanda Jaka meminta kawan-kawannya berhenti bersuara.
Rahmat selaku wakil ketua BEM maju ke hadapan. Ia adalah teman satu kelas Jaka di jurusan Tafsir Hadits.
“Saya mencari Arisiska bukan kamu,” imbuh Jaka memegang balok.
“Ada urusan apa kamu dengan Arisiska? Kalau berani sama laki-laki jangan perempuan,” tantang Rahmat berbadan agak jangkung dan berambut ikal. Ia mantan Preman di sekitar Situbondo.
“Aku tidak urusan denganmu, Mat. Minggir kamu,” halau Jaka melempar tubuh Rahmat yang dibalas Rahmat menarik lengan Jaka.
“Kau lewati dulu mayatku! Sebelum kau ingin bertemu ketua kami!” Tunjuk Rahmat tepat ke mata Jaka.
Dari arah belakang, Arif mahasiswa Fakultas Psikologi semester tujuh meminta keberanian Arisiska untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, “Ariska keluar kau. Berani berbuat berani bertanggung jawab dong.”

“Betul. Tunjukkan batang hidungmu kalau berani,” Sergah Anto. Kawan satu kos Alika Reza. Anto adalah perwakilan
Fakultas Dirosah Islamiyah. Kantor FMM di fakultas yang online dengan kurikulum Universitas Al Azhar Kairo ini hancur berkeping-keping.

Suasana semakin meruncing. Aroma bentrokan semakin kuat. Rahmat dan kawan-kawan mulai melakukan border melindungi pintu masuk sekret. Sementara Situasi Ciputat ramai riuh. Peserta Paduan Suara Mahasiswa UIN yang sedang latihan di samping sekret BEM lari berhamburan menjauh dari tempat kejadian. Duel akan berlangsung seru. Sayyid Quthb VS Immanuel Kant. Al Ghazali VS Descartes. David Hume VS Al Kindi. Islamisasi VS Dekonstruksi.

Para mahasiswa ekstensi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat yang baru keluar dari perkuliahan turun rembug melihat dua kelompok massa sudah saling berhadapan. Mereka terpecah antara bergabung ke BEM dan masuk dalam lingkuran FMM. Situasi ini mirip seperti momentum bentrok fisik setelah Pemira pada tahun 2004 (sampai kini juga masih sering terjadi) silam antara Partai Reformasi Mahasiswa dan Partai Persatuan Mahasiswa. Dua basis kekuatan politik terbesar di UIN Jakarta.
Sementara elemen mahasiswa muslim yang tergabung dalam FMM terus mendesak, “Buka…buka..buka.. buka border-nya.”
Arisiska terkepung, sedang Rahmat menoleh ke belakang meski tangannya tergenggam kuat mempertahankan border.
“Tahan dirimu di dalam Siska. Aku akan menjagamu disini.”
Untuk menghindari konflik, Arisiska akhirnya menepis imbauan Rahmat. Ia memberanikan diri keluar dari peraduannya, berjalan lembut sambil merapihkan jaket hitam ketatnya persis Anna Freud keluar dari ruang prakteknya: Ayu dan tampak tak berdosa. Arisiska mengangguk kepada teman-temannya agar tidak terpancing emosi. Kini ia telah berada di depan Jaka, “Ya ini saya. Ada perlu apa?”
Jaka tersenyum sungging, “Akhirnya keluar juga dalang dari semua skenario ini. Pembual sejati. Mengaku bagian dari pengusung nirkekerasan (baca: ide tanpa kekerasan). Ternyata tulisan-tulisanmu selama ini hanyalan isapan jempol belaka. Murahan sekali kau Lenila. Cantik tapi berhati iblis. Berapa dolar kau dibayar Eropa?”
Pemilik nama lengkap Arisiska Lenila Wahid itu mengeyampingkan wajahnya. Kedua tangannya terlipat. Dengan tenang, ia balik tersenyum. “Selamat Datang Skriptualis. Pecinta Teks. Pemikir Kolot Abad 21 yang hanya bisa menggerutu tanpa ilmu. Tiranik abad pertengahan yang bangkit dari kuburnya. Maaf ini bukan Vatikan. Aku bisa mengurus perizinanmu untuk pindah dari Indonesia. Berapa hargamu?” balas Siska pedas.
“Ow.. bukankah kau yang selama ini punya standar bayaran wahai pelacur?”
Arisiska melepas lipatan tangannya. Kedua softlense oranye di matanya tiba-tiba terdiam. Ia naik pitam mendengar stigma hina bagi seorang perempuan itu terbentang di hadapannya. Ia menunjuk wajah Jaka dengan satu telunjuk terpantau lurus, ”Jaga omonganmu. Hati-hati kalau bicara.”
“Kalau kau memang tidak merasa, kenapa harus marah?”
“Aku tidak pernah mencari uang haram demi kebutuhanku.”
“Owwh mendekat ke Negara adidaya itu dan meminta segenap dolar untuk membunuh Islam kau pikir bukan pekerjaan haram? Owwh semoga aku tidak menyesal kau telah menjadi Presiden BEM saat ini.” Jaka bertepuk tangan seraya tersenyum lalu menoleh ke arah kerumunan kawan-kawannya.
“Hahahahaha…” Gantian Arisiska kini menjadi bahan tawa.
Arisiska sudah mati sabar, ia melempar dengan kencang sebuah buku ke wajah Jaka,
“Bruuk..”
Jaka memegangi wajahnya. Ia tidak terima dilempar buku oleh Arisiska, “Dasar jalang.”
Dan Jaka balik mengangkat tanganya ke langit dan siap menampar wajah kecil Siska.
Arisika menutup muka dengan kedua tangan,
Saat tangan Jaka hampir tiba di muka Siska, tiba-tiba dari belakang Reza menahan tangan Jaka.
“Tahan emosimu, Jak. Kita boleh kesal. Tapi kita selesaikan masalah dengan baik. Bagaimanapun Arisiska adalah adik dari Almarhum Akh Ahmad.”

Melihat kehadiran Reza, Siska terdiam. Ia menaikkan wajahnya. Ia tahu betul siapa pria yang di depannya ini. Pria satu-satunya yang menyanggah tulisannya tentang Rasionalisme Descartes dengan genangan artikel dua puluh lembar yang menyala-nyala. Berjudul terang tapi tetap lembut: Kesalahan Saudari Arisiska Dalam Membandingkan Rasionalisme Descartes dan Al Ghazali. Iya, dua kakak beradik dari orangtua kandung bernama ilmu.
Reza dan Siska beradu pandangan, dan Reza membenamkan wajahnya. Ujian ini menyentuh titik terlemah seorang laki-laki sepertinya. Ia sadar bahwa ia adalah seorang leader di FMM. Statusnya adalah ikhwan. Reza berada dalam posisi dilemma. Ia harus memilih antara hatinya dan prinsipnya. Ia tidak sadar mana yang menjadi keladi rasa cintanya kepada Arisiska. Apakah kepintarannya, kecintaannya terhadap ilmu, atau jelitanya. Namun yang pasti ucapan almarhum Akh Ahmad sebelum wafat selalu mengiang di tiap istikharahnya, “Akhi titip adik ana. Sadarkan ia. Nikahkan jika memang antum ingin berdakwah kepadanya. Mungkin permintaan ini terasa aneh. Tapi percayalah akhi, ini adalah suara lubuk hati dari nurani seorang kakak yang tak tega melihat sang adik sedang terkena tipu daya dunia. Sungguh Arisiska adalah adik perempuan kami satu-satunya pengemban amanah keluarga. Berjanjilah Akh Reza, kitab Ma’alim fiththriqh ini menjadi saksi bahwa cinta itu ada.”
Reza ingin menangis menyadari betapa beratnya ujian Allah. Ya berat karena tepat menghantam titik lemah dirinya. Penggiat Islamisasi Sains dan Sayyed Naquib Al Attas Muda dari Ciputat itu akhirnya menangis dalam hatinya. Mengungkapkan perasaan jauh lebih sulit ketimbang melukis pemikiran.
Reza mengambil buku yang dilempar Arisiska ke wajah Jaka. Ternyata kitab Ma’alim Fiththoriqh itu. Dan Reza mengangkat kepalanya menghadap Siska.

Bersambung

Karya:Muhammad Pizaro Novelan Tauhid

koin penyok

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata,

“Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

papan dan rayap

Dikisahkan dua orang laki-laki bekerja keras membuat sebuah perahu. Ketika sedang sibuk bekerja mereka berdua menemukan rayap disebuah papan. Salah seorang dari mereka kemudian ingin membuang papan itu tapi temannya melarang. Dia berkata, ”kenapa papan ini dibuang? Kan sayang. Lagipula tidak ada masalah. Cuma kena rayap sedikit saja.”

Karena tidak ingin mengecewakan temannya, papan yang ada rayapnya pun digunakan untuk membuat perahu. Selang beberapa hari, perahu pun selesai dan sudah bisa digunakan untuk melayari lautan.

Tapi beberapa tahun kemudian, rayap-rayap itu ternyata bertelur dan menetas. Rayap-rayap itu kemudian menggerogoti kayu kapal. Bahkan rayap-rayap itu menyebar kemana-mana hingga memakan kayu yang ada di lambung kapal.

Kapal terus digunakan dan tak seorang pun sadar hingga akhirnya, kayu-kayu perahu itu pun mulai keropos. Dan, ketika dihantam oleh ombak besar, air berhasil menembus masuk dari celah-celah dan lubang-lubang kayu.

Karena hujan juga sering turun dengan deras, para awak perahu tidak mampu lagi menguras air yang masuk ke dalam perahu sehingga akhirnya perahu itu karam. Di dalamnya terdapat barang-barang berharga dan nyawa manusia.

….

Sahabatku, Kalau saja kita sadar bahwa malapetaka besar ini sebenarnya berasal dari hal yang remeh dan tidak berharga seperti papan yang sudah kena rayap. Kalau saja ketika membuat perahu dahulu papan itu dibuang, tentu saja malapetaka ini bisa dicegah.

Dan, begitulah kalau pada kenyataannya kita sering tidak sadar kalau perbuatan-perbuatan kesalahan kecil dan remeh yang kita lakukan kadang-kadang justru malah menimbulkan malapetaka besar.

orang arif bijak pernah berkata :
“Berhati-hatilah dan berhematlah atas pengeluaran-pengeluaran kecil. kebocoran kecil bisa mengaramkan kapal.”

4 Pilar Kompetensi Kaum Intelektualitas (Pelajar)

Untuk mencapai tujuan dan sasaran dakwah sekolah, maka ada 4 pilar kompetensi yang harus dibangun secara massif terhadap medan dakwah sekolah, khususnya para siswa. Agar kemudian, para aktivis dakwah sekolah tidak memahami Islam secara parsial, namun juga komprehensif dalam berbagai bidang kehidupan. Berikut beberapa kompentensi yang harus dimiliki oleh para ADS tersebut:

1. Kompetensi Imani(keimanan/spiritual.
Para pelajar diberikan informasi dan pengajaran tentang dasar-dasar Islam, dibimbing ruhaninya, diarahkan potensinya, diluruskan akhlaknya, baik terhadap Allah SWT, orang tua, guru dan sesama pelajar. Mereka mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tauhid dalam kesehariannya. Aqidah yang lurus, akhlak yang baik, ruhani yang bersih, ibadah yang benar, wawasan keislaman yang baik, pandai menjaga waktu dan mengatur urusannya adalah bagian dari kompetensi imani seorang pelajar.

Dalam perkembangan yang lebih jauh, mereka dapat mengimplementasikan nilai-nilai ukhuwah dan mujahadah dalam dakwah sebagai cerminan kualitas keimanan mereka.
2. kompetensi Ilmiy(keilmuan)
Para pelajar dimotivasi, dibimbing, diarahkan dan dilatih agar memiliki kemampuan dan disiplin belajar yang tinggi, kecerdasan intelektual dalam menyerap pelajaran, kecerdasan emosional, wawasan yang luas, minat mencari ilmu yang tiada habis-habisnya. Para pelajar juga mulai diarahkan untuk mengenali potensi akademiknya agar dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan bakat dan minat yang telah teridentifikasi secara optimal, sehingga potensinya akan tumbuh sumbur karena ditanam pada lahan yang tepat.

3. Kompetensi Fanni-Jasadi(basic skill-soft skill)
Para pelajar harus ditumbuhkembangkan potensi skill dan ketrampilan (fanniyah) secara optimal sesuai dengan minat dan bakatnya. Ketrampilan yang dimaksud meliputi ketrampilan dasar dan ketrampilan operasional. Ketrampilan dasar (basic-life skill) meliputi diantaranya apa yang dinamakan mega skills: confidence, motivation, effort, responsibility, initiative, perseverance, caring, teamwork, common sense, problem solving. Sedangkan ketrampilan operasional seperti: dasar-dasar manajemen dan keorganisasian, kepemimpinan, teknik komunikasi efektif, hingga kemampuan bahasa asing dan komputer. Menumbuhkan sejak dini jiwa entrepreneurship hendaknya juga mendapat perhatian penting. Ketrampilan pilihan sesuai dengan minat dan bakatnya biasanya telah terakomodasi dalam sistem ekstra kurikuler sekolah dimana kita patut mendorongnya seperti: fotografi, pecinta alam, bela diri, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah, dsb.

Selain itu ansyitoh jasadiyah melalui berbagai kegiatan olahraga dan kepanduan patut dibudayakan dan dilaksanakan secara berkala guna mempersiapkan thoqoh jasadiyah sejak dini yang juga merupakan bekalan asasi dalam dakwah dan jihad fi sabilillah.

4. Kompetensi Sya’bi-Siyasi(kepekaan dan Empati)
Sebagai calon pemimpin di masa depan, para pelajar dilatih untuk memiliki kepekaan & jiwa sosial sebagai bekal dasar untuk menggauli masyarakat di sekitarnya. Menolong sesama manusia yang ditimpa kesulitan, bersilaturahmi dengan tetangga, berakhlak yang baik dan menghormati orang tua, senantiasa menjadi pelopor kebaikan dan suri tauladan khususnya bagi remaja lingkungannya akan memupuk simpati masyarakat dan siap mendukung langkah-langkah kebaikannya.

Selain itu, kesadaran dan kepekaan politik dalam batas-batas tertentu patut ditumbuhkan sejak dini untuk mempercepat pematangan fikriyah dan mentalitasnya sebagai pengemban amanah dakwah dan calon pemimpin di masyarakat. Dimulai dari pemahaman tentang problematika umat Islam, baik lokal, regional dan internasional yang menuntut kebutuhan akan gerakan dakwah yang lokal dan internasional. Merasakan berbagai isu dunia Islam sebagai permasalahan bersama dan menuntut peran serta yang lebih aktif. Turut serta merasakan konstelasi pertarungan ideologi dan peradaban secara global dan pengaruhnya dalam konstelasi pergulatan politik nasional.

menemukan agama yang paling sempurna

Sebuah soal cerita religius untuk adik-adik yang cantik, yang ganteng dan yang yummy:

Ayah bekerja di sebuah perusahaan yang mengeruk sumber daya alam dari seluruh penjuru bumi. Dengan segala cara mengumpulkan profit, tanpa peduli dengan nasib manusia maupun alam di sekitar area kerjanya. Di semua tempat yang dieksploitasi selalu menimbulkan kerusakan yang parah banget. Walaupun keji, Ayah digaji tinggi, otomatis uang jajan kalian juga besar sekali hingga bisa beli apapun yang kalian ingini. Mama juga bisa rutin belanja keluar negeri dan sering main sama bronsky.

Suatu pagi, perusahaan tempat Ayah membudak menemukan surga di bumi. Beberapa spot seksi terbukti mengandung sumberdaya ruar biasa. Tapi ada masalah klasik, area itu dikuasai oleh sekelompok manusia yang berkumpul membentuk sebuah negara. Kali ini negara yang sok religius dan sok demokratis.

Sesuai prosedur, agar perusahaan bisa mengeruk tanpa gangguan dari penduduk sekitar, maka perusahaan segera menugaskan beberapa divisi yang salah satunya adalah divisi khusus untuk negeri religius dibawah pimpinan Ayah.

Hanya dalam beberapa waktu, divisi “perijinan” sudah membeli semua harga diri birokrat terkait hingga ijin keruk terbit dengan masa berlaku nyaris abadi. Divisi “relasi publik” bergerak untuk memenuhi semua media dengan berita-berita pembodohan dan pengalih perhatian; wartawan matre, tweeps, faceboker sampai para blogger influencer diberi ‘beasiswa’ agar mendukung misi perusahaan. Divisi “pendidikan” memastikan agar menteri pendidikan membuat kurikulum yang secara sistematis membunuh daya kritis dan kreativitas anak sejak langkah pertama masuk sekolah. Divisi “spiritual” membuat guru-guru spiritual mengajak murid-muridnya diam, tidak kritis, tidak peduli dan tidak bersuara, melulu sibuk trance dengan otak yang penuh dengan kebahagiaan. Divisi ‘ekonomi’ membuat para pejabat sangat buncit dan mahir bermain statistik untuk pencitraan.

Nah… tinggal divisi religius yang dipimpin Ayah yang belum mulai berprestasi. Tugasnya adalah menemukan sebuah agama yang bisa disponsori eksistensinya. Tentu saja agama yang dipilih harus agama yang sejalan dengan misi perusahaan. Agama yang bisa membuat manusia sekitar area, bahkan kalau perlu membuat manusia di seluruh alam semesta membiarkan perusahaan melakukan eksploitasi sepuasnya tanpa gangguan.

Untungnya Ayah sudah diberi beberapa kriteria, harus seperti apa sifat agama yang akan disponsori:

1. Mengajari manusia untuk sangat tergantung pada opini-opini pemuka agama yang otoriter. Jadi Ayah bisa mengendalikan jutaan manusia hanya dengan menguasai beberapa pemimpin agama.
2. Mengajari manusia untuk menyembah Tuhan secara kroyokan, kumpal kumpul, grudak gruduk, polutif, berisik dan intimidatif. Gerombolanisme ini lebih mudah digembala dan bagus untuk mengeliminasi individu yang tidak kooperatif dan sok kritis.
3. Pesan-pesan dalam kitab sucinya harus sangat multitafsir, kontradiktif dan dipenuhi pesan hipnotif yang menumbuhkan arogansi dan rasa paling benar sendiri bagi pembacanya. Ini bagus agar umatnya tidak pernah kompak, terpecah dalam berbagai sekte dan tiap saat bisa dibuat sibuk dengan pertengkaran-pertengkaran suci yang religius.
4. Kitab sucinya harus terlalu suci untuk ditafsirkan oleh sembarang orang. Siapapun boleh baca, tapi hanya segelintir pemuka yang diijinkan memakainya untuk bikin opini dan menggerakkan massa. Ini perlu agar pemuka agama yang dikuasai perusahaan tidak punya saingan.
5. Menyembah Tuhan yang Maha Gila Hormat, Maha Haus Darah, Maha Pemarah, Maha Pencemburu, Maha Penuh Kebencian terhadap orang yang tidak beriman dan Maha Perlu Dibela. Ini supaya manusia jadi takut dan mudah diatur tapi tetap bersemangat membela Tuhan dari segala ancaman, baik darat, laut, udara maupun online.
6. Mengajari umat untuk gemar mengurusi selangkangan orang lain, suka ikut ngatur urusan ibadah orang lain, dan tidak mengizinkan penggunaan akal tanpa restu pemuka agama. Kesibukan mengurusi selangkangan dan keimanan tetangga akan membuat manusia lupa menggunakan akal untuk memikirkan hal-hal yang lebih bermanfaat.
7. Menjanjikan kenikmatan fisik setelah kematian dengan syurga yang nikmatnya surgawi dan neraka yang sakitnya luar biasa nerakawi. Janji surga ini untuk membantu agar manusia bisa tetap sabar, nrimo, pasrah dan tawakal walau dimiskinkan, dibodohi dan ditindas akibat perselingkuhan Penguasa, Pemuka agama, Media dan Perusahaan. Sedangkan ancaman siksa neraka bermanfaat untuk menteror siapapun yang tidak mau menurut pada opini pemuka agama.
8. Mendidik umat untuk selalu mengkambinghitamkan Setan dan Tuhan dalam setiap kesulitan yang diderita. Kalau gagal mengendalikan nafsu maka itu salah setan yang suka menggoda. Kalau ditimpa bencana alam atau kecelakaan maka itu gara-gara Tuhan yang iseng memberi cobaan. Ini bagus untuk mencetak pribadi-pribadi sok religius yang gemar menyalahkan pihak lain, pasrah dan tidak suka bertanggung jawab.

Perusahaan menggaji Ayah berdasarkan prestasinya dalam pekerjaan, kalau gagal menemukan Agama yang paling sempurna sesuai kriteria diatas, maka Ayah bisa dipecat. Uang jajan kalian dan gaya hidup mama bisa terancam.

Ayo, bantu ayah menemukan Agama yang paling sempurna! Lakukan tanpa menyebut label/merk dagang, karena dinding punya telinga, mata-mata perusahaan kompetitor ada dimana-mana.

Apakah kamu cukup cerdik untuk melakukannya?